| Moderator dan Pembicara dalam Acara Ngabuburich Arichsan - ki-ka: Offie Dwi Natalia, Valencia Fabian, Lala Adani (Source: Dokumentasi Pribadi) |
Lagi asyik nyantai sambil ngopi, tiba-tiba pandangan terpaku ke billing bulanan yang baru aja masuk. And just like that, pikiran langsung traveling jauh ke depan,
kira-kira sepuluh atau dua puluh tahun lagi, kondisi finansialku akan seaman apa, ya?
Jujur aja, most of the time, obrolan perkara uang lebih sering bikin anxious daripada excited.
Akhirnya, rasa khawatir itu sedikit terjawab. Pada 8 Maret 2026 di Selibar Cafe Jakarta bertepatan dengan International Women’s Day, aku mendapatkan perspektif baru yang cukup membuka mata dalam acara Ngabuburich yang diadakan oleh Arichsan.
Bagi yang belum kenal, Arichsan adalah sebuah space, media yang diinisiasi oleh Lala Adani, yang kemarin juga berperan ganda sebagai MC sekaligus moderator. Dirancang sebagai ruang bagi perempuan untuk belajar, berdiskusi, dan tumbuh bersama.
Fokusnya adalah membahas finansial hingga berbagai keresahan perasaan yang sering dialami perempuan, terutama bagi para ibu.
Di Vol. 01 kemarin, temanya adalah “Women, Money, and Meaning.”
Ada dua perempuan hebat yang berbagi insight berharga untuk kami yang hadir:
Offie Dwi Natalia, M.Psi. (Psikolog, CGA Psychologist) yang membahas sisi mental dan aspek psikologis perempuan.
Valencia Fabian, BA, CFP, QWP, AWP (Financial Planner) yang berhasil membuat topik keuangan terasa jauh lebih sederhana dan masuk akal.
Beyond the Title: Being a Woman with a Plan
It’s 2026, and yet kita masih sering terjebak dalam stigma lama seperti,
“ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi atau terlalu ambisius dalam karier?”
Padahal, menjadi berdaya bukan berarti ambisi buta. Ini tentang memiliki kebebasan untuk memilih. Sebagai perempuan, kita perlu benar-benar mengenal siapa diri kita sebelum kita menjadi “milik” siapa. Mau memilih menjadi career woman atau fokus menjadi full-time mom, semuanya adalah pilihan yang sah.
Satu hal yang sangat ditekankan dalam diskusi hari itu adalah, apa pun pilihan peran dalam hidup perempuan, kemandirian tetap penting. Bukan karena kita harus selalu kuat sendirian, tapi karena hidup itu unpredictable.
Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan orang tua, pasangan, atau bahkan diri kita sendiri. Maka membekali diri dengan skill, pengetahuan, dan kemampuan untuk berdiri di kaki sendiri bukanlah bentuk ego, melainkan bentuk self-respect.
Dengan kata lain, menjadi perempuan yang empowered berarti sedang membangun safety net untuk diri sendiri.
The Money Dial: Spend on What Truly Matters
Salah satu insight paling menarik adalah konsep Money Dial yang diperkenalkan oleh Valencia Fabian. Money Dial adalah cara memahami apa yang sebenarnya paling kita hargai dalam hidup, lalu menyesuaikan cara kita membelanjakan uang dengan hal tersebut.
| Ilustrasi Mencatat Keuangan (Source: Google Generated Image) |
Menariknya, konsep ini terasa sangat relevan bagi banyak perempuan. Dalam berbagai fase kehidupan, kita sering tanpa sadar menempatkan diri sendiri di urutan terakhir. Setelah keluarga, pasangan, anak, dan berbagai tanggung jawab lain, barulah kalau masih ada ruang kita memikirkan diri sendiri.
Akibatnya, hal-hal yang dulu kita sukai perlahan tersisih. Bahkan untuk meluangkan waktu me-time atau membeli sesuatu yang sebenarnya kita suka, langsung deh merasa bersalah. Seolah menikmati sesuatu untuk diri sendiri adalah bentuk ego.
Money Dial membuat kita mengenali apa yang benar-benar kita cintai bukanlah hal yang egois. Justru dengan memahami apa yang memberi kita energi dan kebahagiaan, kita bisa menjalani berbagai peran hidup dengan lebih seimbang.
Sebaiknya, kita perlu tahu di mana tombol dial keuangan kita seharusnya digunakan. Setiap orang punya “dial” pada hal yang berbeda.
Misalnya, ada orang yang Money Dial-nya traveling. Ada yang merasa paling hidup ketika berinvestasi di self-development seperti kursus atau workshop. Ada juga yang merasa paling bahagia ketika mengalokasikan uang untuk outfit olahraga.
Ketika kita sudah tahu Money Dial kita, cara kita mengelola uang biasanya berubah secara alami.
Pertama, kita akan berhenti merasa bersalah ketika mengeluarkan uang untuk hal yang benar-benar penting bagi kita.
Contohnya, membeli kelas kursus, nonton konser, atau berinvestasi pada hobi yang kita cintai. Karena kita tahu itu bukan sekadar pengeluaran, tapi bagian dari kualitas hidup kita.
Kedua, kita juga secara otomatis menjadi lebih selektif.
Barang-barang yang sebenarnya nggak terlalu berarti bagi kita, entah itu tren fashion, gadget terbaru, atau impulsive buying pelan-pelan kehilangan daya tariknya.
Bukan karena kita sedang memaksa diri untuk hemat, tapi karena kita sudah tahu apa yang benar-benar bernilai bagi kita.
Kesimpulannya, memiliki Money Dial yang jelas dapat membantu kita membelanjakan uang dengan lebih sadar, bukan sekadar reaktif terhadap tren atau FOMO.
Financial Mapping: Mengenal Angka dan Potensi Diri
Selain mengenali Money Dial, Valen juga mengingatkan bahwa kebebasan finansial nggak datang dari mimpi aja.
Financial freedom itu datang dari mapping yang jelas. Sering kali kita bahas tentang financial freedom, tapi jarang benar-benar duduk dan menghitung, berapa income kita, bagaimana pola lifestyle kita, dan apa target finansial yang ingin kita capai.
Padahal, memahami angka-angka itu justru membuat kita lebih realistis dan lebih siap menghadapi masa depan. Bagi perempuan, memiliki penghasilan sendiri itu sebenarnya lebih dari sekadar angka. It's about security.
Bukan juga untuk pamer atau terlihat hebat, tetapi untuk memiliki rasa aman bahwa kita mampu berdiri di atas kemampuan kita sendiri dan tetap survive ketika badai kehidupan datang tak sesuai rencana.
Yang bikin lega, menjadi produktif dan berdaya ternyata nggak selalu berarti harus sibuk bekerja di kantor dari pagi sampai malam. Kadang, semuanya justru bisa berawal dari hobi yang kita nikmati.
Dari situ kita bisa mulai bertanya, apakah ini bisa menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi? Karena sering kali passion yang kita tekuni dengan serius justru berpotensi menjadi sumber penghasilan.
Bahkan dalam bentuk yang sangat sederhana. Misalnya berdagang takjil saat Ramadan, menjual hasil baking rumahan, atau membuka kelas kecil dari skill yang kita miliki. Hal-hal yang kita anggap kecil seperti ini sebenarnya merupakan bentuk kemandirian, cara kita menciptakan value dari sesuatu yang kita sukai.
Why Your Mindset is Your Best Asset
Pembahasan sore itu nggak berhenti pada angka di rekening. Kami juga diingatkan tentang pentingnya mental mapping, bagaimana cara kita memandang diri sendiri ternyata sangat memengaruhi cara kita memperlakukan uang.
Jika dari awal kita merasa nggak layak mendapatkan sesuatu yang lebih besar, tanpa sadar kita bisa menghabiskan uang untuk hal-hal yang nggak benar-benar penting. Karena itu, memiliki tujuan yang jelas menjadi sangat penting.
Tuliskan rencana hidupmu. Petakan apa yang ingin kamu capai ke depan. Catat kebutuhan dan pengeluaranmu. Jangan hanya menyimpannya di kepala, put it on paper! Dengan begitu, setiap keputusan finansial yang kita buat akan lebih terarah.
When Women Start Talking About Money
Satu hal yang juga berkesan dari acara hari itu adalah, rasanya seperti intimate talk dengan teman-teman yang tulus ingin melihat kita sukses. Energi Arichsan terasa sangat supportive. Mereka ingin kita para perempuan benar-benar “berisi”, baik secara mental maupun finansial.
| Sesi Foto Bersama Peserta Ngabuburich Arichsan (Source: Arichsan via Whatsapp Group) |
Selama ini, topik uang sering dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka terutama oleh perempuan. Padahal justru dengan memahami uang, mengenali Money Dial kita, dan memetakan masa depan secara sadar, kita bisa mengambil kembali kendali atas pilihan hidup kita.
So, ladies, jangan takut lagi membicarakan uang. Jangan malu memiliki ambisi. Perempuan yang berdaya bukan yang cuma punya keinginan untuk sukses, tetapi juga tahu ke mana tujuannya dan bagaimana cara sampai ke sana.
So, what’s your Money Dial?
Mungkin sekarang saatnya kita mulai mengenal diri sendiri lebih dalam lagi, memetakan masa depan dengan lebih sadar, dan tentu aja, tetap slay dalam prosesnya.
See you at the next volume of Ngabuburich.
Comments
Post a Comment