![]() |
| Ilustrasi Kartini Modern (Source: Google Generated Image) |
Selama puluhan tahun ini, perayaan Hari Kartini yang kita kenal, yang identik dengan lomba pakai kebaya, dandan, masak, sampai merangkai bunga, itu sebenarnya agak melenceng dari semangat asli beliau.
Memang nggak ada salahnya sih, hanya saja sangat disayangkan di mana sosok Kartini yang aslinya sangat progresif malah hanya dipersempit hanya seputar urusan domestik atau tampilan feminitas saja. Padahal, kalau kita flashback ke sejarahnya, R.A. Kartini itu pejuang yang sangat visioner.
Di zaman itu, beliau sudah berani menyuarakan hak pendidikan bagi perempuan dan menolak tradisi pingitan yang membatasi ruang gerak perempuan.
Kartini sebenarnya punya mimpi besar supaya perempuan Indonesia punya otonomi penuh atas dirinya sendiri, bebas berpikir, dan bisa sekolah setinggi-tingginya. Beliau kepingin perempuan itu nggak cuma tunduk pada keadaan, tapi berani kritis dan mengisi peran-peran penting di ruang publik.
Sekarang, kabar baiknya, banyak sosok Kartini modern yang mulai memperjuangkan hal progresif, salah satunya tentang mengambil keputusan dan mengelola finansial.
Di momen Hari Kartini kali ini, aku memilih untuk merayakannya dengan cara ikut webinar yang diadakan Female Digest. Topiknya, “Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Kartini Modern, Melek Finansial”, karena melek finansial adalah bentuk kemajuan bagi perempuan.
![]() |
| Mengapa Perlu Melek Finansial (Source: Googele Generated Image) |
Jujur, aku sering banget ngerasa saldo rekeningku kok bocor ya, padahal nggak belanja barang mewah. Setelah ikut webinar seru dari Female Digest kemarin bareng Ani Berta (Founder Female Digest) dan moderator kece Ruth Ninajanty, B.A. (Community Development Manager Female Digest), aku baru sadar kalau kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dan jadi habit, seperti jajan kopi Jago tiap hari, itu yang bikin saldo rekening bocor halus.
Realita Pink Tax: Emang Beneran Ada?
Salah satu yang paling menarik perhatianku mengenai Pink Tax, yang sempat dibahas oleh Dedek Gunawan, S.E., M.A., CFP (Financial Planner & Founder PBP), istilah ini merujuk pada ketidakadilan harga di mana produk yang ditujukan untuk perempuan dibanderol lebih mahal dibandingkan produk serupa untuk laki-laki.
Oke, buat kamu yang mikir ini cuma perasaan aja kali, ternyata ada datanya, lho. Berdasarkan riset, ada selisih harga sekitar 7% sampai 13% lebih mahal untuk produk yang ditargetkan buat perempuan dibanding produk serupa buat laki-laki.
![]() |
| Ilustrasi Pink Tax (Source: Google Generated Image) |
Padahal, secara fungsi dan kualitas, barangnya sama persis. Cuma beda warna atau kemasan saja. Kenapa sih perusahaan tega begitu? Riset dari UGM dan Unhas menemukan adanya strategi willingness to pay. Intinya, perusahaan memanfaatkan psikologis perempuan yang cenderung lebih mengapresiasi desain dan estetika.
Mereka berasumsi kalau kita itu “kurang sensitif” terhadap harga demi barang yang kelihatan eksklusif atau lucu. Padahal, kalau diakumulasi secara global, Pink Tax ini bisa bikin kita rugi ribuan dolar per tahun.
Di Indonesia, hal ini makin memperburuk ketimpangan ekonomi karena gaji rata-rata perempuan seringnya masih di bawah laki-laki, tapi biaya hidup kita malah dipaksa lebih tinggi.
Sedihnya lagi, menurut Unnes Law Review, di Indonesia sendiri belum ada aturan tegas dalam UU Perlindungan Konsumen yang melarang diskriminasi harga berbasis gender ini. Jadi, ya senjata utamanya memang cuma literasi finansial kita sendiri.
Jebakan Digital dan Strategi Melek Finansial
Belum lagi, riset menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan lebih tinggi, namun di sisi lain, karier perempuan sering kali bersifat on-and-off karena urusan domestik atau pengasuhan.
Kondisi ini menempatkan kita pada posisi finansial yang cukup rapuh jika nggak dikelola dengan sadar. Makin ke sini, jadi makin sadar kalau kita butuh “napas” keuangan yang lebih panjang. Kita harus menyiapkan dana untuk masa tua di tengah inflasi yang gila-gilaan.
Ditambah lagi paparan materi dari Diana Anggraini, S.T., M.Si. (Dosen LSPR Institute of Communication & Business) memberikan insight yang cukup menohok tentang psikologi belanja kita.
Di dunia digital, kita bukan sekadar pengguna, melainkan target sistem. Algoritma feed, notifikasi, hingga penghitung waktu mundur flash sale dirancang untuk memicu impulsivitas.
![]() |
| Ilustrasi Target Sistem dan Solusi Menanganinya (Source: Google Generated Image) |
Efek bola saljunya membuat pengeluaran kecil yang sepele tapi dilakukan terus-menerus bisa merusak rencana masa depan. Sering kali kita merasa “hemat” karena ada diskon, padahal diskon itu tidak sama dengan hemat jika kita sebenarnya tidak butuh.
Mba Diana menyarankan kita untuk mengaktifkan “tombol kendali”: tahan keinginan membeli selama 24 hingga 72 jam. Jika setelah waktu itu kita masih merasa butuh, barulah pertimbangkan untuk membeli. Strategi ini sangat efektif untuk memutus rantai impulsive buying.
Lawan dengan Mindful Spending: Be Functional, Not Just Aesthetic
Belanja dan menyenangkan diri itu boleh-boleh saja kok, justru wajib hukumnya. Terus gimana cara kita survive? Jawabannya adalah jadi konsumen yang cerdas dan fungsional. Menekan pengeluaran atau menaikkan jumlah penghasilan.
Mulai sekarang, yuk kita pilih produk berdasarkan manfaat murninya, bukan cuma karena kemasannya “lucu” atau warnanya pink. Ini juga adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan.
Sehat dari Dalam, Bahagia yang Terencana
Menjadi melek finansial bukan berarti kita harus berhenti merawat diri atau hidup dalam serba kekurangan. Justru, ini adalah tentang bagaimana kita memilih kualitas hidup secara sadar.
Investasi diri yang paling dasar dimulai dari kesehatan fisik dan mental. Misalnya, daripada terus-menerus jajan minuman manis yang memicu stres dan pengeluaran tak terduga untuk biaya kesehatan di masa depan, kita bisa mulai mengurangi konsumsi gula atau beralih ke gaya hidup sehat bersama Tropicana Slim.
Inisiatif dari Nutrifood ini mengajarkan kita bahwa menjaga asupan gula adalah salah satu bentuk self-love. Begitu juga dengan perawatan wajah. Kita nggak perlu mengikuti semua tren kecantikan dan skincare yang lewat di layar ponsel kita.
Cukup pilih produk yang esensial dan berdampak positif, seperti rangkaian dari Wardah Beauty. Dengan semangat beauty moves you, kita diajak untuk menjadi penggerak perubahan, nggak harus besar, langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membawa manfaat baik.
Aku bangga sih kita punya perusahaan lokal seperti Paragon Corp yang lewat Wardah Beauty terus konsisten bikin standar kecantikan yang inklusif dan meaningful.
Dukung brand lokal yang transparan dan peduli pemberdayaan itu salah satu cara smart buat memastikan uang kita lari ke tempat yang benar-benar memberi dampak positif buat sesama perempuan.
Perusahaan seperti Paragon Corp telah menunjukkan bahwa inovasi yang konsisten dan tata kelola yang baik bisa menciptakan dampak besar bagi masyarakat. Kita pun bisa menerapkan prinsip yang sama dalam skala kecil di lingkungan kita.
Membangun Bumper dan Legacy
Melek keuangan berarti berani menghadapi angka. Jangan menunggu ada sisa uang baru berinvestasi dan punya asuransi, karena biasanya uang nggak akan pernah bersisa jika nggak dialokasikan.
Gunakan rumus sederhana: 50 - 60% untuk kebutuhan, minimal 20% untuk investasi, dan jangan lupa sisihkan untuk dana darurat sebagai “bumper” hidup.
Investasi juga jangan ikut-ikutan, karena keadaan dan situasi tiap pribadi tentunya berbeda, nggak perlu banyak porto, tapi pilihlah yang cocok dengan keadaan kita. Ingatlah bahwa life is a journey, not a race. Garis start setiap orang berbeda, jadi berhentilah membandingkan proses kita dengan hasil orang lain.
Setiap keputusan finansial yang kita buat hari ini adalah langkah menuju legacy yang ingin kita tinggalkan nanti saat pensiun.
Take the Driver’s Seat!
Dulu, narasi Hari Kartini mungkin identik dengan kebaya dan perayaan simbolis. Tapi hari ini, perayaan yang paling Kartini adalah saat kita berani mendobrak domestifikasi perempuan yang seringnya bikin kita cuma jadi pengelola tanpa punya kendali penuh.
Jadi Kartini modern itu berani jadi “driver” buat hidup kita sendiri, dan sehat secara mental, fisik, dan finansial adalah kunci kebahagiaan Kartini modern masa kini.
Aku percaya, saat satu perempuan berdaya, dia akan membawa dampak buat sekelilingnya. Jadi, jangan pernah ngerasa telat buat belajar investasi atau melek angka, ya!
Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia. Mari kita rayakan hari ini dengan janji pada diri sendiri untuk jadi versi terbaik, sehat secara mental, fisik, dan finansial. Stay empowered!




Comments
Post a Comment