![]() |
| Nilam Sari, Womanpreneur dan Franchise Consultant (Source: Bengkulunetwork.com) |
Pernah terpikir bagaimana sebuah bisnis gerobakan di pinggir jalan bisa bertransformasi menjadi korporasi besar yang melantai di pasar saham?
Bagi sebagian orang, skenario ini terdengar too good to be true. Namun, bagi Nilam Sari, ini adalah rekam jejak dari portofolio kehidupannya.
Nama beliau sudah lama lekat di industri kuliner tanah air sebagai seorang womanpreneur tangguh sekaligus franchise consultant yang sangat diperhitungkan.
Memulai langkah di usia 19 tahun dengan modal awal dari uang angpau pernikahan, beliau sukses mendobrak batasan bahwa bisnis berskala mikro pun memiliki hak untuk scaling up hingga ke tingkat tertinggi.
Momen ini terasa semakin dekat saat aku mengikuti sesi workshop bertajuk “Kickstart Your Business: Temukan Keberanian untuk Memulai dan Kekuatan untuk Konsisten” yang diadakan oleh Komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur).
![]() |
| Workshop Komunitas ISB dengan Nilam Sari (Source: Instagram/komunitasisb) |
Aku mendengarkan langsung sharing emosional dan taktis dari Mba Nilam yang benar-benar membuka mata tentang esensi dunia usaha yang sebenarnya.
Melalui artikel ini, aku ingin mengajak untuk membedah lebih dalam bagaimana mindset sukses seorang Nilam Sari dibentuk.
Karena kalau kita bersedia melihat lebih dekat, babak paling menarik dari cerita beliau bukan sekadar romantisasi angka saat berada di puncak kejayaan.
The best part justru terletak pada kemampuan beliau mengelola risiko, menundukkan ego, hingga keberanian mengambil keputusan ekstrem untuk menyelamatkan diri ketika hidupnya sedang diuji.
Let’s talk about data, facts, and human emotions di balik layar perjuangan Mba Nilam Sari.
Street Food, High Hopes
Kalau kita melihat data historis ke belakang, kesuksesan Mba Nilam nggak terjadi dalam satu malam. Banyak orang mengira rekam jejak bisnisnya langsung melejit lewat menu Kebab Turki Baba Rafi.
Fakta menariknya, first product yang beliau rilis justru adalah kuliner gerobakan bernama Yummy Burger di Surabaya pada awal tahun 2000-an.
![]() |
| Kebab Turki Baba Rafi (Source: entrepreneur.bisnis.com) |
Modal awalnya uang sebesar Rp 4 juta yang dibagi secara presisi: Rp 2 juta untuk gerobak, Rp 500 ribu untuk peralatan, Rp 500 ribu sewa tempat, Rp 500 ribu gaji karyawan, dan sisanya untuk operasional.
Lalu, beliau memanfaatkan momen perjalanan ke Qatar dalam rangka mengunjungi mertua, beliau mengamati tren makanan lokal dan membawa pulang sebuah konsep baru, yaitu kebab take-away.
Beliau melakukan modifikasi resep agar sesuai dengan preferensi lidah masyarakat lokal, lalu meluncurkan merek Kebab Turki Baba Rafi yang kemudian menjadi legendaris di Indonesia.
Di masa-masa merintis dari nol di pinggir trotoar itulah, Mba Nilam merangkum target-targetnya secara berkala, dari impian memiliki satu gerobak, hingga naik kelas ke puluhan hingga ratusan gerobak.
Bahkan bukan hanya di Indonesia tapi juga mendunia. Faktanya, satu per satu impian itu berhasil dieksekusi menjadi kenyataan.
Pelajarannya adalah jangan terjebak membuat sistem yang terlalu rumit di awal sampai membuatmu takut melangkah.
Prinsip Mba Nilam sebetulnya, mulai dari hal kecil, jalankan market validation, pastikan model bisnisnya profitable, baru kemudian lakukan duplikasi.
Pola duplikasi inilah yang membuat operasional bisnisnya melesat dari 5 gerobak menjadi 30 gerobak dalam waktu singkat karena beliau jeli mengambil peran sebagai penyuplai bahan baku utamanya.
When Expansion Meets the Illusion of Success
Memasuki tahun 2008, Mba Nilam mengambil langkah untuk pindah ke Jakarta. Langkah ini sukses meningkatkan skala bisnisnya secara eksponensial hingga menyentuh angka ratusan outlet di berbagai wilayah. Popularitas meroket, dan di titik inilah ujian mental yang sesungguhnya datang.
Mba Nilam secara jujur mengakui bahwa di fase pertumbuhan masif ini, beliau sempat terjebak dalam sindrom OKB (Orang Kaya Baru). Ketika sebuah bisnis mendatangkan keuntungan besar, ego seorang pemimpin sering kali mengambil alih rasionalitas.
Beliau mulai bersikap impulsif dengan membeli berbagai aset tanpa perhitungan matang, berinvestasi di bisnis kos-kosan, hingga nekat menyuntikkan dana ke industri yang sama sekali di luar kompetensinya, yaitu sektor pertambangan. Imbasnya lumayan fatal, beliau menjadi korban penipuan hingga harus menyelesaikan perkara lewat jalur hukum.
Ditambah lagi dengan hantaman krisis finansial pada tahun 2009 yang sempat memperlambat laju pertumbuhan bisnis waralaba, dinamika ini memberikan sebuah pelajaran berharga yang sangat mahal.
Mulailah bisnis di bidang yang kita kuasai, kita sukai dan harus fokus. Pertumbuhan yang sehat membutuhkan kesabaran dan kedalaman strategi, bukan sekadar ambisi untuk cepat sukses.
Paying the "Tuition Fees" of Life
Badai terbesar dalam hidup Mba Nilam terjadi pada rentang tahun 2015 hingga 2017. Ujian berat pada institusi rumah tangga beliau berujung pada keputusan pecah kongsi bisnis secara total di tahun 2017.
Secara hukum, beliau kehilangan hak atas nama bisnis lama yang telah dibangun belasan tahun dari bawah menggunakan nama anaknya sendiri. Merek kebab tersebut akhirnya dibagi menjadi wilayah operasional terpisah demi menghindari benturan hukum.
Yang membuat situasi semakin pelik, perpecahan kongsi tersebut meninggalkan warisan utang korporasi yang sangat fantastis, yaitu sebesar Rp 9 miliar.
Berada di posisi kehilangan support system, kehilangan hak nama bisnis, dan dibebani utang miliaran tentu bisa membuat siapa saja memilih untuk menyerah. Namun, di sinilah kapasitas self-leadership dari seorang womanpreneur sejati diuji.
Setelah berhasil melaluinya, Mba Nilam memilih mendirikan bendera baru bernama PT Sari Kreasi Boga (SKB Food) sebagai kapalnya untuk bangkit.
Menariknya, di tengah perjuangan keras mencicil utang pada periode 2017 sampai 2019, beliau menolak untuk membiarkan kapasitas berpikirnya mandek. Beliau memilih jalan "investasi leher ke atas" yang sesungguhnya.
Berkat rekam jejak dan potensinya, Mba Nilam berhasil meraih penghargaan sekaligus beasiswa penuh dari Majalah SWA untuk menempuh studi S2 (Magister) di bidang Manajemen dan Kewirausahaan.
Sambil menimba ilmu pascasarjana untuk meng-upgrade kompetensi akademisnya, beliau juga aktif membagikan pengalamannya sebagai pembicara di berbagai workshop, pelatihan, dan seminar.
Kombinasi antara peningkatan kapasitas otak, perluasan networking, dan kerja keras tanpa henti akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2019, utang sebesar Rp 9 miliar tersebut berhasil dilunasi.
The Next Chapter: Multiplying Success and Scaling Up Local Brands
Puncak dari penerapan ilmu manajemen baru, restrukturisasi internal, dan pengelolaan sistem karyawan yang matang di bawah arahan Mba Nilam terbukti secara valid pada bulan Agustus 2022.
PT Sari Kreasi Boga Tbk (dengan kode saham: RAFI) sukses melakukan IPO (Initial Public Offering) dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.
Peristiwa bersejarah ini melahirkan tagline ikonik yang membakar semangat para pelaku UMKM tanah air: "Dari lantai trotoar sampai ke lantai bursa."
Setelah berhasil mengawal transformasi bisnis tersebut menjadi perusahaan publik dan menyelesaikan masa baktinya di jajaran direksi hingga pertengahan tahun 2024, jiwa inovator Mba Nilam nggak lantas berhenti bergerak. Beliau langsung meluncurkan kapal bisnis barunya yang jauh lebih visioner saat ini, yaitu PT Nava Sari Kreasi.
Melalui PT Nava Sari Kreasi, beliau meng-upgrade perannya secara total menjadi seorang franchise consultant papan atas melalui ekosistem platform NS Consulting dan BukaOutlet.com.
Misi barunya adalah melakukan kurasi, merapikan sistem manajemen, dan membantu menduplikasi kesuksesan para pelaku UMKM lokal agar mampu bertransformasi menjadi bisnis kemitraan yang sehat, kokoh, dan autopilot.
![]() |
| Nilam Sari dengan tim bukaoutlet.com (Source: bukaoutlet.com) |
Saat ini sudah ada kurang lebih 40 brand dan jasa yang sukses dikembangkan di bawah ekosistem mereka. Beberapa nama yang mungkin sudah sangat familiar di telinga kita antara lain Almaz Fried Chicken, Roscik Ayam Panggang, hingga bisnis jasa modern seperti Jakarta Coin Laundry.
Aligning Your Business with Your Heart
Jika kita menarik benang merah dan menganalisis seluruh perjalanan hidup seorang Nilam Sari, ada beberapa esensi penting (core values) yang sangat relevan untuk dijadikan pedoman hidup maupun bisnis bagi generasi muda:
Investasi Leher ke Atas adalah Prioritas Utama: Pendidikan, pelatihan, dan networking adalah aset terbaik yang nggak bisa didevaluasi oleh krisis. Keputusan Mba Nilam untuk mengambil beasiswa S2 di tengah badai utang membuktikan bahwa saat kondisi bisnis sedang menyusut, kapasitas diri kita justru harus diperbesar agar mampu melahirkan solusi yang lebih scalable.
Pahami Timeline Dirimu Sendiri: Jangan pernah menetapkan tolok ukur kebahagiaan atau kesuksesan pribadimu berdasarkan pencapaian orang lain yang tampak di luar. Setiap individu memiliki lini masa, kurva belajar, dan paket ujiannya masing-masing.
Prinsip Masker Oksigen (Selamatkan Dirimu Terlebih Dahulu): Mba Nilam mengingatkan kita bahwa dalam aspek kehidupan apa pun, entitas yang harus diselamatkan terlebih dahulu adalah diri kita sendiri, bukan orang tua, pasangan, ataupun anak.
Jika diri kita sendiri belum stabil dan sehat secara mental maupun finansial, kita nggak akan pernah bisa menyelamatkan orang lain. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk melepaskan hubungan atau lingkungan yang toxic demi ruang pertumbuhan pribadimu.
Tanyakan Kembali ke Dalam Diri: Kebahagiaan dan kepuasan hidup (fulfillment) nggak melulu bisa dikonversikan dengan nominal uang. Sebelum kamu memutuskan untuk membangun bisnis atau mengambil langkah besar dalam hidup, luangkan waktu sejenak untuk bertanya secara jujur pada dirimu sendiri:
"Is it really something that you’re looking for? Apakah ini yang benar-benar membuat hatimu happy? Atau apakah ini yang membuatmu merasa puas?"
Setiap fase kehidupan pasti membawa paket ujiannya sendiri. Proses untuk beradaptasi dan berubah di setiap kondisi tertentu memang diakui sebagai proses yang paling melelahkan dan menguras energi. It is exhausting, and that’s completely okay.
Dalam sesi kemarin, Mba Nilam memberikan satu pesan penting, jangan pernah takut melangkah. It's totally natural if you think, "what if I fall? Gimana kalau kita jatuh?" and I totally get it. Tapi, mari kita balik pertanyaannya dengan perspektif yang lebih positif seperti yang beliau katakan, "Gimana kalo ternyata kita terbang?"
Belajar dari perjalanan beliau, kita disadarkan kalau growth itu nggak pernah instan. It takes a lot of courage, focus, kemauan untuk terus mempelajari hal-hal baru, dan memerlukan konsistensi.
Kamu juga memiliki hak yang sama untuk memindahkan lembar mimpimu menuju puncak tertinggi. Jadi, sudahkah kamu siap untuk mendengarkan isi hatimu sendiri dan mulai melangkah hari ini? You’ve got this, and let's make it happen!




Comments
Post a Comment