Happy Halloween: Akar Kuno Samhain dan Hangatnya Altar Día de los Muertos

Halloween Pumpkin Lantern (Source: Pinterest/Halloween Costumes)

Kalau mendengar kata Halloween, apa sih hal pertama yang terlintas di kepala kamu? Pasti nggak jauh-jauh dari pesta kostum seru, dekorasi labu spooky, atau tradisi trick-or-treat yang sering kita lihat di film. Tiap akhir Oktober, vibe perayaan ini selalu terasa hype, bahkan di kalangan anak muda Jakarta. 

Tapi, pernah nggak sih kamu penasaran dari mana sebenarnya asal-usul perayaan ini? Rasa penasaran aku terjawab waktu aku menghadiri acara kolaborasi super keren antara Kedutaan Besar Irlandia dan Kedutaan Besar Meksiko di Jakarta, 19 Oktober kemarin. Bertema “Day of the Dead -  Night of the Undead”.

Dipandu oleh seanchaí (pendongeng tradisional Irlandia) Colin Urwin dan puppeteer asal Meksiko Victorhugo Hidalgo, momen ini benar-benar membuka perspektif baru tentang cara manusia memandang kehidupan dan kematian.

Puppeteer Victor Hugo, Duta Besar Irlandia untuk Indonesia Sharon Lennon, Duta Besar Meksiko untuk Indonesia Francisco de la Torre Galindo, Colin Urwin di acara Samhain & Día de Muertos Celebration di Shoemaker Studios, Jakarta. (Source: Dok. Pribadi)

Let’s look back into the history. Jauh sebelum tren Halloween bergeser menjadi festival pop modern, ada akar tradisi kuno yang sarat akan makna spiritual, Samhain dari tanah Irlandia dan Día de los Muertos dari Meksiko.

Bagi aku, kedua tradisi ini punya kontras yang seru banget. Di satu sisi ada yang defensif menghadapi roh, di sisi lain ada yang justru menggelar karpet merah untuk menyambutnya. Yuk, kita bahas perbandingan filosofinya, terutama simbol-simbol magis yang kemarin dipajang di altar kematian (ofrenda).

Dua Filosofi yang Bertolak Belakang: Menolak vs Menyambut

Kalau kita sandingkan, Samhain dan Día de los Muertos ini sebenarnya bertolak belakang banget dalam merespons tipisnya batasan dunia kita dengan alam baka.

Di Irlandia kuno, Samhain (diucapkan: saw-wen) adalah penanda datangnya musim dingin yang gelap gulita. Bangsa Kelt percaya kalau pada malam 31 Oktober, tabir (veil) ke dunia gaib (Otherworld) menipis dan membuat roh-roh bebas berkeliaran. 

Ilustrasi Samhain, Masuknya Musim Dingin (Source: Irishcentral.com)

Nuansanya cenderung mistis dan protektif. Manusia di bumi merasa terancam dengan kehadiran makhluk supranatural atau peri usil (púcaí). Makanya, mereka menyalakan api unggun besar (communal bonfires) dan memakai topeng menyeramkan sebagai kamuflase agar tidak diganggu roh jahat. Inilah cikal bakal kostum yang menjadi ciri khas Halloween sampai hari ini. 

Lentera kuno dari lobak besar (turnips), dipahat untuk mengusir kegelapan. Di abad ke- 19, emigran Irlandia yang datang ke Amerika menggunakan labu sebagai gantinya karena sulit menemukan lobak. Konsepnya di sini adalah keep them away.

Sebaliknya, Día de los Muertos di Meksiko yang dirayakan setiap tanggal 1 dan 2 November justru dipenuhi sukacita, warna-warni cerah, dan kehangatan. Tradisi ini sama sekali bukan Halloween versi Meksiko. 

Berakar dari peradaban pra-Hispanik kuno seperti suku Aztec dan Nahua, kematian tidak dipandang sebagai hal horor yang harus dihindari, melainkan bagian alami dari siklus abadi kehidupan. 

Alih-alih memakai topeng untuk bersembunyi, masyarakat Meksiko justru membuat Ofrenda (altar peringatan). Altar ini disiapkan sebagai tempat persinggahan (welcoming station) yang nyaman bagi jiwa-jiwa tercinta yang pulang dari alam baka untuk menengok keluarga mereka di bumi. Konsepnya di sini adalah welcome home.

Decoding The Ofrenda: Makna di Balik Simbol-Simbol Altar

Buat kamu pecinta film animasi, visualisasi kehangatan Dia de los Muertos ini pasti terasa familiar kalau kamu pernah menonton film Coco.

Coco is a masterpiece from Pixar Animation Studios. Pixar sengaja merancang dunia arwahnya dengan sangat megah dan penuh warna agar bisa menangkap esensi asli kebudayaan Meksiko. Jembatan kelopak bunga oranye dan altar foto keluarga yang dilewati Miguel di film Coco itu nyata banget filosofinya.

Altar Ofrenda, Dia de los Muertos (Source: Dok. Pribadi)

Waktu aku memperhatikan detail altar Ofrenda di acara kemarin, aku sadar kalau setiap elemen yang diletakkan punya kode spiritual tersendiri. Berdasarkan catatan berharga dari acara, ini filosofi dari benda-benda yang ada di altar:

1. Bunga Oranye (Flor de Cempasúchil), The Golden Path

Bunga marigold oranye terang yang khas ini disebut Cempasúchil dalam bahasa Nahua. Kelopak bunga ini punya aroma yang sangat kuat dan warna yang mencolok menyerupai matahari. 

Filosofinya indah banget, sebagai penunjuk jalan bagi jiwa-jiwa tercinta agar tidak tersesat menuju altar rumah mereka. Keluarga biasanya menaburkan kelopak bunga ini membentuk jalur khusus dari pintu depan rumah hingga ke area altar. Selain oranye, altar juga kerap dihiasi bunga berwarna ungu, merah muda, dan putih yang melambangkan kedamaian dan transisi jiwa.

2. Cermin (The Mirror), Reflecting Identity

Have you ever wondered why there’s a mirror on a death altar? Perjalanan kembali dari alam baka merupakan jalan yang sangat panjang dan melelahkan (a long road from the afterlife).  

Victorhugo memeperagakan bercermin di Altar (Source: Dok. Pribadi)

Konon, dalam perjalanan spiritual yang membingungkan tersebut, arwah rentan kehilangan identitas mereka. Cermin diletakkan di altar agar ketika para arwah tiba, mereka bisa melihat diri mereka sendiri jika mereka sempat melupakan wajah mereka. It’s a deeply emotional reminder of their essence.

3. The Core Elements: Tanah (Soil), Air (Water), dan Makanan (Meals)

Altar Ofrenda harus mewakili empat elemen alam, dan salah satu yang paling dasar adalah elemen tanah yang diwakili oleh tanah berwarna hitam (black soil). Tanah melambangkan tempat asal dan tempat kembali tubuh manusia. 

Di samping tanah, selalu disediakan semangkuk air bersih dan makanan favorit almarhum semasa hidup (seperti pan de muerto atau roti orang mati). Setelah menempuh perjalanan gaib yang melelahkan, para arwah membutuhkan air untuk melepas dahaga dan makanan untuk mengumpulkan energi, serta membawanya kembali sebagai bekal perjalanan pulang mereka.

4. Garam (Salt): Dua Perspektif Budaya yang Bentrok

Garam jadi bukti bagaimana kedua budaya ini bertolak belakang.

Perspektif Meksiko: Garam melambangkan elemen penyucian spiritual. Bersama lilin, garam diartikan sebagai cahaya spiritual (light) yang memandu arwah agar jiwa mereka tetap murni dan tidak tersesat selama perjalanan pergi dan pulang.

Perspektif Irlandia (Irish Folklore): Di Irlandia kuno, fungsi garam justru sebaliknya. Masyarakat menggunakan garam untuk menjaga agar roh-roh jahat atau peri usil tetap menjauh (to keep the spirit away) dari rumah dan garis batas manusia. Yang satu buat menyambut, yang satu buat membentengi. Fascinating, isn't it?

5. Kupu-Kupu Monarch (The Celestial Messenger)

Kehadiran simbol Kupu-kupu Monarch (Monarch butterfly) memiliki arti emosional yang sangat dalam. Setiap musim gugur, jutaan kupu-kupu Monarch bermigrasi dari Kanada ke hutan-hutan di Meksiko, tepat pada waktu perayaan Día de los Muertos dimulai.

Suku asli Meksiko percaya bahwa kupu-kupu ini adalah pembawa pesan antara alam baka dan alam hidup. Mereka menggendong cinta manusia di bumi kepada mereka yang telah tiada, sekaligus menjadi perwujudan fisik dari jiwa-jiwa leluhur yang datang berkunjung.  

 

 Dua Belahan Dunia

Manusia punya cara yang sangat unik dan beragam dalam menghormati memori serta misteri kematian. Mau itu lewat api unggun pelindung ala Samhain Irlandia untuk menghalau kegelapan musim dingin, atau lewat altar penuh warna ala Día de los Muertos Meksiko untuk merayakan kepulangan arwah, esensinya mengajarkan kita satu hal, kematian adalah bagian dari perjalanan besar yang kita semua bagi bersama.
Two different paths, yet sharing the same twilight. Whether we build fires to guard our gates or lay flowers to guide them home, human culture reminds us that death is not the end of a story, but a transformation of how we remember.

Comments